Kajian identifikasi jenis kerusakan jalan dan pedestrian di Kota Blitar
Abstrak :
Jalan merupakan salah satu jenis prasarana transportasi darat yang memegang peranan penting bagi pengembangan suatu daerah. Kondisi jalan yang baik akan memudahkan mobilitas penduduk dalam mengadakan kegiatan ekonomi dan kegiatan sosial lainnya. Ruas jalan di kota Blitar mempunyai frekwensi lalu lintas tinggi. Kerusakan-kerusakan yang terjadi tentu akan berpengaruh pada keamanan dan kenyamanan pemakai jalan.
Kerusakan jalan dapat disebabkan oleh beberapa faktor, diantaranya air, perubahan suhu, cuaca, temperatur udara, material konstruksi perkerasan, akar pohon yang besar, kondisi tanah dasar yang tidak stabil, proses pemadatan di atas lapisan tanah dasar yang kurang baik dan tonase atau muatan kendaraan-kendaraan berat yang melebihi kapasitas serta volume kendaraan yang semakin meningkat.
Kenyataan di lapangan menunjukan bahwa pada jaringan jalan tertentu khususnya di perkotaan terjadi ketidakseimbangan antara tingkat pertumbuhan jalan disatu sisi dengan tingkat pertumbuhan kendaraan disisi yang lain, dimana pertumbuhan jalan jauh lebih kecil daripada tingkat pertumbuhan kendaraan, hal ini berarti menunjukkan terjadinya pembebanan yang berlebihan pada jalan.
Oleh sebab itu penanganan konstruksi perkerasan baik yang bersifat pemeliharaan, peningkatan atau rehabilitasi akan dapat dilakukan secara optimal apabila faktor-faktor penyebab kerusakan pada kedua ruas jalan tersebut telah diketahui.
Dalam mengevaluasi kerusakan jalan perlu ditentukan jenis kerusakan (distress type) dan penyebabnya, tingkat kerusakan (distress severity) dan jumlah kerusakan (distressamount).
Permasalahan kedua yang menjadi bahasan kajian adalah jalur pejalan kaki atau pedestrian. Konsep penataan yang kurang baik pada jalur pedestrian serta desain yang belum maksimal menjadi menyebab rendahnya keamanan dan kenyamanan pejalan kaki. Selain itu, penyediaan fasilitas pejalan kaki yang masih minim yang membuat kondisi jalur pedestrian yang digunakan pejalan kaki kurang nyaman dan aman.
Jalur pejalan kaki merupakan elemen penting perancangan kota. Pedestrian merupakan fasilitas kota yang diperuntukan bagi pejalan kaki memisahkan lintasan kendaraan dengan pejalan kaki, sehingga tercipta ketertiban lalu lintas dan keteraturan lingkungan kota. Penataan fasilitas pedestrian belum menjadi prioritas utama yang diperhatikan pemerintah. Selama ini pembangunan jalan hanya akan diikuti dengan pembangunan fasilitas pedestrian jika dananya mencukupi
Pada akhirnya, pembangunan fasilitas pedestrian akan ditangguhkan pada anggaran pembangunan yang akan datang. Pelebaran jalan yang dilakukan sebagai usaha menanggulangi kemacetan pun terkadang mengambil sebagian ruas jalur pedestrian (fasilitas utama) yang membuat ruang pedestrian semakin sempit. Pedestrian atau jalur pejalan kaki di bangun untuk menyediakan tempat bagi pejalan kaki, pemakai kursi roda dan kereta bayi agar dapat berjalan lancar, aman, nyaman dan tidak mengganggu kelancaran lalu lintas kendaraan serta menghindari kecelakaan dan konflik antara pejalan kaki dan kendaraan.
Dalam pelaksanaannya pembangunan pedestrian atau ruang publik lebih mengutamakan penampilannya dan pelengkap di pinggiran jalan, sedangkan unsur-unsur menyangkut fungsi utama pedestrian atau ruang publik masih kurang memperhatikan kepentingan pejalan kaki. Akibatnya pedestrian tidak dapat memberi kenyamanan dan keamanan bagi pejalan kaki bahkan dapat menyebabkan terhambatnya ruang gerak pengguna jalan. Walaupun aktivitas pergerakan dengan kendaraan bermotor meningkat dan mendominasi, tetapi aktivitas berjalan tetap menjadi moda transportasi dasar dalam mengakomodasi pergerakan.
Beberapa tahun lalu, sebagian jalur pedestrian di Kota Blitar telah dilakukan perbaikan secara bertahap untuk memudahkan kenyamanan pejalan kaki. Namun beberapa pedestrian yang telah diperbaiki ada yang sudah mulai mengelupas dan rusak. Sedangkan sebagian lain belum dilakukan perbaikan. Ironisnya, beberapa pedestrian lama yang belum diperbaiki, selain rusak juga terlihat bergelombang yang disebabkan karena akar pohon yang besar dan sudah tua serta berakibat pula pada tidak ratanya tepi jalan yang juga bergelombang.
Diharapkan dari hasil kajian nantinya dapat digunakan sebagai pedoman dalam perencanaan pembangunan atau rehab jalan dan pedestrian di Kota Blitar.